Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts
Berbicara Dengan Malam

“Dannu”, begitu mereka memanggilku. Karena malam ini, tidak tersampaikan mata untuk terpejam. Hanya memandang dan menuliskan sebuah sederetan kata luas terbentang diatas sana.


Sepasang tangan ini tidak mengerti apa yang menggerakkan dia diatas deretan huruf dan angka. Dia hanya berusaha menuntun hati agar mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan dari sudut pandang mata. Dan ketika dia mulai berjalan dari satu huruf ke huruf yang lain, selembar kertas jatuh ke lantai tertiup angin yang masuk dari jendela kamarku. Seharusnya dia tertumpuk rapi disana karena di tulisan terakhirnya dia sudah mengakhiri dengan sederetan kata pengharapan dan pembenaran atas apa yang dirasa. Tak terbaca karena mata hanya melihat dengan bibir itu tak mampu bergerak. Tertahan oleh susunan keinginan yang terhalang oleh kebutuhan atas kenyataan. Entah untuk saat ini ataupun saat masa yang tak tersentuh.

Tangan terus berjalan menceritakan alur yang akan dijalani. Tertulis lilin dengan cahaya tipis dan lembut yang akan menembus malam yang menyelimuti. Dan mata tau ketika batas penglihatan tidak bisa sejauh yang diangan setiap saat, karena inilah kehidupannya yang berisi siang dan malam. Malam membalut dengan dinginnya yang tajam siap melukai mereka yang memaksa untuk melawannya. Tetapi kedua jendela ini sengaja kubiarkan terbuka. Dibalik itu ada berjuta taburan bintang dalam atap-atapnya yang siap menemani gerak langkah ini. Dia menaruh bintangnya yang paling terang diantara semua itu karena hanya butuh satu untuk membuat dia yakin atas apa yang dijalani dan akan dia hadapi.

Dan semua kini berjalan dengan tangan saling memegang erat keinginan dan kebutuhan yang sama. Dengan cara dan jalan yang berbeda atas apa yang dirasa. Dan kamu?. Adalah jalan yang aku ambil dalam serangkaian malam dan siangku. Karena kamu yang akan melihatku sampai aku terbangun lagi.

Dannu, 25 Maret 2008 2:28 AM dalam dingin malam suci mengikat kerendahan hati untuk cinta.

Karena Pikiranku, Hatimu

Tembok itu tepat berada didepan wajah yang tidak bisa menunjukan apa yang dirasa melalui bahasa mata,mulut dan telinga. Dan selangkah kaki beranjak kebelakang, ingin melihat seluas apa tembok itu dan membayangkan ketebalan dari penampakan permukaannya. Seorang malaikat berbisik memberi gambaran apa dibalik itu. Sekelompok anak kecil riang sedang bermain lompat tali dihalaman rumput hijau. Beberapa diantaranya masih didampingi ibunya dari jarak yang tak jauh dengan muka tersenyum memberikan harapan suci sepenuhnya pada riang yang dipancarkan dari anaknya. Sebelum pergi malaikat itu berkata, “Kamu bisa melihatnya dengan pasanganmu, karena kamu tidak bisa begitu jelas melihatnya.”.

Dia melihat dan merasakan dengan benar, apa yang ada pada dirimu. Tapi dia tidak bisa menyentuhnya, karena terlapis dengan selembar kewajiban keyakinan yang ada. Entah datang dari mana sebuah ketakutan untuk melangkah dan menengok dari celah keberanian. Dan kebutuhan itu datang, karena dia tidak bisa dengan lancar menjelaskan arti kata “Cinta”. Berlindung dibawah kata keabadian dan kepercayaan dia mengerti dan bertindak, ketika semua perjalanan hidupnya membentuk semua pemikiran-pemikiran yang sebelumnya diluar keterbatasan manusia. Tentang apa, siapa, dimana dan bagaimana. Kesempurnaan tidak tumbuh secara instant, mereka menyertai perjalanan yang dipilih untuk dilalui. Dan ketidaksempurnaanpun tidak memberi batasan untuk misahkan diri dari kesempurnaan yang terbayang, karena dia bisa mengalah berubah menjadi kesempurnaan itu.



*duh., sori lagi kumat..

Pilih anak atau istri?

Kemaren malam, tiba-tiba dapet pertanyaan yang agak berat..:p. “Dit, kalo km ditanya gini jawabnya apa?, kalo kamu dah nikah ntar dan punya anak, lebih cinta mana: anak atau istri?, ato lebih milih mana: istri atau anak?”. Wew.., hmm.. IMHO kedua object itu g cocok dipasangkan sebagai object pilihan. Coz jika begitu brarti diantara anak dan istri terdapat separator. Keduanya adalah satu kesatuan yang mengikat dalam sebuah keluarga dengan unsur-unsur didalamnya suami, istri dan anak. Tapi aq g sepenuhnya menolak maksud pertanyaan itu, coz ternyata menurut dia memang ada yang memberi jawaban memilih anak; yang berarti lebih penting anak daripada istri dan secara g langsung posisi istri (dalam hal ini cewek) akan sedikit terancam. Ya..ya.. I’ve got the point. Jadi permasalahannya mungkin ada ketakutan dari si cewek kalo ntar dia punya anak, perhatian, kasih sayang dan sejenisnya dari suami akan berkurang. Hihihiii..cuman bisa senyum aja kalo ini..:p.

Hmm., sebenernya ketika kita ngomongin pilihan anak atau istri, kita telah berbicara pada kualitas mindset yang berbeda, bukan pada kuantitas kasih sayang atau cinta. Jangan disamakan perhatian, kasih sayang dan cinta ke anak dengan ke istri. Sebelum membahas ke situ, perlu diliat dulu konsep awalnya. Bahwa kita mencari calon istri dan memutuskan menikah dengannya sebenernya kaya’ apa seh. Bahwa kita pasti mencari calon istri yang bisa saling mengerti satu sama laen (kelemahan dan kelebihan), bisa saling menyayangi, cinta. Tuh tadi common reason lah.., tp sebenernya dibalik itu adalah agar kita nantinya bisa saling bertukar pikiran, berkomunikasi dengan baek, berdiskusi, mau saling mengkoreksi dan bekerjasama dalam koridor pernikahan. Tugas bersama adalah tetap mempertahankan itu smua, cinta dan kasih sayang masih didalamnya. Nah kemudian apa yang terjadi ketika ada kehadiran seorang anak didalamnya?, ya tentunya 2 point (cinta dan kasih sayang) tadi masih ada tetapi sekarang character mindsetnya agak digeser bahwa 2 point itu lebih ditekankan pada konteks collaboration, saling membantu bersama-sama membuat fondasi yang lebih kuat lagi. Karena domainnya dah bertambah dengan adanya anak. Bukan untuk mereka aja, tapi untuk anak”nya kelak. Jadi inget pernah ada temen yang berkata ke aq, “Nikah tuh g bisa modal cinta aja dit, karena didalam pernikahan yang ada adalah kerjasama. Jadi kalo ada yang bilang aku menikah ma kamu karena aku cinta ma kamu. Tuh cupu bangeeett…”. Ya..ya.. kalo itu agree lah. Hehehee., kadang dalam hati menyanggah jg seh, gini “ya gpp no, toh gimana kita mo kerjasama kalo ngg’ ma orang yang kita cintai..:p” . So, g ada yang perlu dipilih karena konteksnya dah beda antara sebelum dan sesudah ada kehadiran anak.

Jadi gini aja biar imbang dan g ada yang ngerasa dirugikan, ketika belum punya anak: “Sayang istri.”. Dan ketika dah ada anak: “Sayang anak dan makin sayang istri.”. Tapi ntar disanggah lagi sang istri, nah tuh sekarang sayangnya dibagi coz ada kata-kata “dan” didalamnya. Ya dah tinggal dirubah: “Sayang anak. Makin Sayang istri.”. Beres toh.?!, kalo belum trima, ya udah cari istri laen lagi aja..:p. (yang ini jangan ditiru.. hahahahaa).

women on top..

Suatu sore diteras rumah, seorang teman bertanya “enakan mana jomblo ato punya pacar, dit?”. Dan harapannya jawaban dari aq cukup bisa menyakinkan lagi tentang keputusan apa yang mo diambil besok. Coz dia rencananya besok mo mengluarkan statement atas apa yang dia rasakan saat ini, gol akhirnya seh kaya’nya mo mengakhiri hubungan ma pasangannya ato ngg’.

Hmm.., menjawab pertanyaan seperti itu harus hati-hati coz sangat relatif menurut aq. So aq coba tanya dia knapa kok sampai muncul pertanyaan seperti itu setelah kurang lebih 5 tahun dia jalanin hubungan bareng ma pasangannya. Ada beberapa point yang aq tangkap dari ceritanya, dan itu aq jadikan patokan untuk mengenali lebih detil permasalahan dan kondisinya. Secara keseluruhan bisa aq pisah jadi 3 point. Pertama, mungkin ini agak kurang kuat untuk dijadikan point of view yaitu: beberapa hari yang lalu dia merayakan ulang tahunnya sendiri, karena pasangannya ternyata g bs datang karena alasan dinas ditempat kerjanya. Dan disamping itu skrg frekwensi mereka cuman weekend aja ketemu itupun g tiap weekend. Kedua, karena posisi sekarang dia masih job seeker dan pasangannya dah lebih dulu bekerja di daerah asalnya. Ini yang menyebabkan frekwensi bertemu mereka berkurang. Ketiga, mungkin ini cuman kondisi/alasan pamanis dan penghibur yang dia lontarkan yaitu: dia ingin lebih bebas mencari wanita laen diluar sana..:p, tp itu blm dilakukan loh, secara dia mungkin masih setia dan menghormati hubungannya saat ini. Yup, Kalo alasan pertama kok kaya’nya childish banget, tp mungkin jg coz dia terbiasa dengan frekwensi ketemuan yang tiap hari tiap jam dulunya. Alasan ketiga nih jg mungkin efek dari alasan pertama, dan ini terancam semu dan sesaat. Aq lebih condong mengambil alasan kedua sebagai bahan tanggapanku ke dia. Bisa dikatakan mungkin sekarang dia lagi merasa “dibawah” dari pasangannya. Ya memang kalo diliat dari sisi pasangannya alasan ini g begitu menimbulkan masalah besar, ato bahkan bukan masalah sama sekali (seperti kata female ke aq ..:) ). Tapi aq mandangnya wajar dari sisi seorang lelaki. Bahwa kita butuh sesuatu yang bisa dijadikan parameter untuk diri kita sendiri, sesuatu yang bisa dijadikan patokan untuk mengukur eksistensi kita sendiri dan terhadap pasangan kita. Oleh karena itu aq ngerti bagi sebagian seorang pria ketika kondisi itu datang dan mencapai batas “saturasi” maka wajar ada kegelisahan bahwa: apakah aq bisa membahagiakan pasanganku kelak?, apakah pasanganku merasa benar” nyaman dengan kondisi q?, dan pertanyaan sejenis akan terus bermunculan dan berkembang. Dan itu biasanya seh perasaan gitu g bertahan lama, cuman mampir ajah..:).

Dari situ aq cuman memaparkan jawabanku secara implisit dari beberapa tanggapan” dan statement” yang aq buat. So smoga tertangkap maksud q bahwa memang kita kadang harus melawan kondisi, melawan keadaan yang ada. Ada satu ilustrasi tentang itu, pernah g kita terbiasa dengan suatu kondisi, kita tergantung dengan keadaan. Keadaan yang mengendalikan kita, dan bukan sebaliknya. Contoh seperti ini, ada beberapa orang suka dgn kondisi yang sepi (g bising), dengan ac ruangan 21 derajat, ruangan yang bersih rapi, tidak ada kertas berserakan dimeja sewaktu dia bekerja. Gimana ketika kondisi sebaliknya yang ditemui?, apakah kita yang akan pergi dari ruangan itu ato kita tetap berada diruangan itu dan bekerja. Smua tergantung kita, apakah kita bisa survive ato tidak. Orang yang bisa bertahan adalah orang yang bisa menyesuaikan diri dan mencoba mengendalikan keadaan. Mengendalikan keadaan disini bukan berarti merubah secara fisik kedalam bayangan ideal kita. Tp bagaimana kita me maintenance diri berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru. Mempelajari dan mencari lagi kondisi ideal didalam situ.

Keputusan seharusnya bukan berasal dari kondisi atau keadaan yang tercipta, akan lebih wise jika kita melihat sudah sejauh mana kita berusaha melawan keadaan itu, bagaimana kita menyikapinya dan bagaimana kita bisa berkompromi dengan kondisi itu..:).

Second chance..

“Human being look for reasons when things don’t go well.”

Hmm., dari kita mungkin pernah mengalami. Try to stand up in past time and describe why it happens now in present time. Terutama ketika dihadapkan dengan keadaan yang mungkin diluar prediksi kita. Mencoba mendeskripsikan lagi secara tak langsung masalalu kita, menemukan kesalahan” yang mungkin tidak kita sadari saat itu, mencoba melihat kesempatan”,harapan” dan keberuntungan yang ada saat itu, dan mencari kembali alasan” yang kita ambil ketika memutuskan sesuatu. Mungkin sebenarnya adalah usaha untuk more realize our life without regret (positif thinking.:p). Dan dengan pertimbangan itu mungkin kita lebih bisa menciptakan satu circumstance positif dalam diri untuk melangkah lagi.

Apa yang kita dapatkan sekarang, bagaimana kehidupan yang kita jalani saat ini. Itu adalah buah dari apa yang kita lakukan dan putuskan kemarin. Ketika orang berfikir agar bisa dapat kembali lagi di saat dimana kita harus memilih dan memutuskan sesuatu, apakah ada jaminan apa yang akan kita jalani selanjutnya di slide” kehidupan berikutnya akan berjalan mengikutinya?. Tidak. Karena jika kita merubah salah satu slide kehidupan kita yang lalu, maka darisitu kita harus siap pula memperbaiki dan menghadapi slide” selanjutnya yang mungkin bisa berbeda mutlak dengan apa yang kita hadapi sekarang. Karena kehidupan seperti jaringan syaraf yang terhubung satu sama laen dan saling memberi dan menerima aksi dan reaksi. Tiap slide kehidupan terhubung dan memiliki skenario tersendiri yang harus kita cermati dan kita sadari.

Lalu apa yang lebih wise yang harus kita lakukan. Bahwa seharusnya apa yang kita lakukan sekarang adalah apa yang sudah kita pelajari dari rangkaian slide kehidupan kita. Kita tidak pernah melihat apa yang terjadi dihari mendatang. Apa yang kita hasilkan kelak dan apa yang datang dikehidupan kita esok. Anggapan bahwa masih ada hari esok untuk melakukannya, dan berharap bahwa akan ada kesempatan serupa dalam hidup adalah not use. Terlepas dari salah ato benar, terlepas dari baik ato buruk. Apa yang kita lakukan sekarang, apa yang kita hadapi sekarang, apa yang kita pilih dan putuskan adalah sesuatu yang berharga saat ini dan saat” mendatang. Begitu pula yang kita lakukan, kita pilih, kita putuskan disaat lalu. Ketika kita bisa menyadari hal ini setiap saat maka kita bisa melewati hidup kita with no regrets.

So, we don’t need second chance.
Coz in fact second chance is not exist..:)

Tak Pandai Membaca Hati

...

Birunya merangkul dalam hati. Menutup pandangan gerak langkah yang tersamar dalam impian semu. Dalam udara dia berbisik, pengemis yang bijak tidak akan berpangku diatas apa yang sejenak digariskan. Dia terlihat, dengan menampikkan tembok besar keduniaan yang tercipta dengan sempurnanya. Dia tak terbaca, ketika kebisingan dalam hati mulai teriak menyela ingin melihat apa yang terlihat didepannya.

Seseorang dengan wajah kebahagiaan dan dengan perhiasan emas ditubuhnya menghampiri. Apa yang kamu cari?, karena aku sendiri belum menemukannya.
Dia memilikinya. Kamu tidak.
Kamu memilikinya. Dia tidak.
Mereka menutupinya dengan pembenaran-pembenaran yang terlihat. Mereka mengingkarinya dengan perdebatan kepentingan-kepentingan yang mendominasi.

Semua bisa terlihat, semua bisa terbaca.
Karena hatimu, masih milikmu. Bukan dia, mereka atau siapa.


...


*duh.., kumat lagi.. arggh..

it was stone..

Dannu pun bersandar pada dinding yang mengajaknya berbicara. "Jangan mengajakku berbicara saat ini..!", tolaknya disaat semua seakan membuatnya susah bernafas dengan benar. Yang dia pandang hanya orang berlalu lalang dengan muka dan bentuk yang tersamar oleh kilauan-kilauan cahaya yang terbiaskan matanya. Yang dia rasakan hanya dingin yang berasal dari dalam tubuhnya. Tidak ingin bicara, karena dia tau segala ucapannya akan terhalang.

Hanya mendengar dan mengikuti setiap kata yang dengan lembut merubah sisi ketidaklogisan perasaannya. Dimana aku..?. Disaat aku sedang berdiri dengan setengah telapak kaki menyentuh tepi peralasan. Ketika semua seakan dapat berlari saling mengejar kesempurnaan yang terbatas angan. Mereka berbicara diatas kenyakinan dari mata dan telinganya. Siapa mereka?. Ketika tersadar tiada tangan yang membantu memegang keterbatasan dan keindahan yang tercipta. Lantas untuk siapa?.

Kakinya seakan membatu karena tidak hanya dinding yang berbicara, anginpun membisikan ceritanya, lagu-lagu mulai mematenkan smua liriknya ditelinga dan pikirannya, sudut-sudut pandangnya terus menerus menyapa tanpa henti. Yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menundukkan kepala dengan berusaha melepas sejenak semua rantai kesucian yang mengikatnya kala itu.


...

3 Penyelamat

namanya..

"Findra Arista Dannu", panggilannya Dannu.

"Alaysha Taura Agatha", panggilannya Shasha.

"Almira .... ....", panggilannya Al.

Findra => pengen ajah memberi nama ini.
Arista = baik, best, high quality (greek), bisa mewakili sebagai anak pertama
Dannu = penyelamat
Alaysha => biar bisa dipanggil Shasha :p
Taura => aq ambil dari zodiak q (taurus)
Agatha = baik, bagus, bisa jg sholehah
Almira = mulia, luhur

nah, kurang 2 kata lagi nih untuk merangkai nama ke-3. dari kemarin belum nemu-nemu.. :(. harus semedi dulu kaya'nya.. ;)

hmmm.., satu hadiah paling berharga di umur" nanti adalah "hidup bersama dan melihat meraka tumbuh dalam kehidupannya dari kecil sampai dewasa". Itu dah cukup :)

nama di foto: Muhammad Firza Yan Hermanto lahir 27 April 2006 (panggilan Firza)

Bersandar Pada Ayat-Ayat Kehidupan

dalam satuan waktu tak tersentuh:

Nafaspun berjalan di jalan setapak yang tercipta oleh dua tembok besar kepentingan dunia. apa yang dia dapat hanya udara-udara toleransi dari prinsip diri manusia. "apa kepentinganmu?" seakan suara keluar dari tiap guratan kasar tembok itu. kau robohkan tembok itu kah?, karena dia yang membuatkan jalan buatmu selama ini. taman indah dengan bidadari yang kelak menghasilkan anak-anak sholeh sholehan menatap dari jauh. ketika mata mendengar keributan tentang arti kehidupan. ketika telinga melihat bisikan-bisikan yang sebenarnya kamu tau kebenarannya. semua harus telewati karena itulah kehidupan. kehidupan yang memberi airmata, yang memberi senyuman, yang memberi harapan ato bahkan yang bisa menenggelamkanmu dalam lautan yang mereka sebut keangkuhan dan keegoisan. (D:3:20)



"yanx..yaanx...bangun..udah jam delapan tuh..katanya mo makan..?", suara lirih terdengar. hmm.hah..jam berapa nih?!?..berapa jam aq tertidur barusan?!?..aq g nulis apa" kan tadi?!?..*tersadar dengan setengah nyawa. "hmm.., ya dah kita makan trus aq anter kamu pulang yah.." arrghh.., apa yang membuatku tertidur mungkin karena kecapekan dengan pikiranku akhir"ni.